The Effort of Beef Needs Supplying for Coming Years in Indonesia

Supardi Rusdiana, Ismail Ismail, Rusli Sulaiman, Amiruddin Amiruddin, Razali Daud, Zainuddin Zainuddin, Mustafa Sabri

Abstract


The increase in beef production is constrained by the slow growth of beef cattle population which is caused by the cattle breeding business that is considered less commercially profitable. The supplying of beef needs in a critical and effective manner is always increasing each year, so the price of beef is fluctuate. The various priority concept of the government's main program for the development of beef cattle is always done in every region in Indonesia. But the production of beef is still less and the government have to import the beef to fulfill the beef production. Therefore, this issues need necessary operational steps to provide more open space for some factors and leverage points in the supplying of beef needs. The purpose of this review is to examine the efforts to supply beef needs for the future in Indonesia critically. The high price of beef is not a mistake of the government. Basically, the government has tried to make the beef cattle population increased, to fulfill the consumer needs and the prices of beef is affordable for the customer. To cope with the higher beef prices, the government is make a policy of developing small, medium-sized, and big beef cattle breeding industries through seed cattle spreads on plantations of oil palm, rubber and cultivable fields for the development of beef cattle population. It is expected that in the coming year, beef cattle business can be oriented to agribusiness bussiness so that farmer's welfare will increase and can support Indonesia as the world food granary.

Keywords


Leverage Point; Beef Supplying

Full Text:

PDF

References


Abidin, Z. 2002, Penggemukan sapi potong. Agromedia Pustaka, Cetakan Buku 2, dilindungi oleh Hak cipta Pustaka, ISSN-3341-5151 Jakarta, hal.1-186.

Astuti. 2004. Potensi dan keragaman sumberdaya genetik sapi Peranakan Ongole (PO) Wartazoa 14(3): 98-106.

Ahmad, S.N., D.D. Siswansyah, dan O.K.S. Swastika. 2004. Kajian sistem usaha ternak sapi potong di Kalimantan Tengah. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian 7(2): 155−170.

Ashari, Nyak Ilham dan S.Nuryanti. 2012. Dinamika program wasembada daging sapi: reorientasi konsepsi dan implementasi. Analisis Kebijakan Pertanian. Vol.10.No. 2 Juni 2012. hal. 181-198

Atmakusuma Juniar, Harmini dan Ratna Winandi. 2014. Mungkinkah swasembada daging terwujud. Jurnal Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan, ISSN: 2355-6226 Agustus 2014 Vol. 2 No. 1. hal. 105-109.

Achmad, N. Maulana. 2016. Kebijakan pemerintah dalam menekan pemotongan sapi betina produktif, BPPM Gallusia, Fakultas Peternakan UGM, https://agribi-snispeternakan.wordpress.com/artikel/ diakses tgl, 2 Nopember 2016.

Amindoni Ayomi. 2017. Mengapa harga daging sapi di Indonesia mahal? http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41264222, diakses tgl, 11 Januari 2018. 2017,

Bamualim, A. and R.B. Wirdahayati. 2003. Nutrition and management strategies to improve Bali cattleproductivity in Nusa Tenggara. Strategies to Improve Bali Cattle in Eastern Indonesia. ACIAR Proceedings. No. 110. pp 17–22

Bahri, S., B. Setiyadi, dan I. Inounu. 2004. Arah penelitian dan pengembangan peternakan tahun 2005-2009. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner Puslitbangnak Bogor, 4−5 Agustus 2004, hal.6-10.

Bamualim. A. 2010. Pengembangan teknlologi pakan sapi potong di dearh semi arid Nusa Tenggara. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Pemuliaan Ruminansia (Pakan dan Nutrisi Ternak). Kemnetrian Pertanian, 29 Nopemebr hal. 1-59.

Badan Pusat Statistik Pertanian. 2016. Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Statistik pertanian dan Peternakan, dalam angka sementara Desember 2016.

Diwyanto, K., S. Rusdiana, dan B. Wibowo. 2010. Pengembangan agribisnis sapi potong dalam suatu sistem usahatani kelapa terpadu. Wartazoa Desember 2010, Vol.20(1):29-40.

Diarmita. I. Ketut 2017. Upaya Kementerian Pertanian Mewujudkan K-etahanan Pangan Asal Ternak. Humas Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Tim Yuliana Susanti Tanggal Posting: 14 Juni 2017 / Publikasi: (admin) Hits: 204.

Diwyanto, K. 2008. Pemanfaatan sumber daya lokal dan inovasi teknologi dalam mendukung pengembangan sapi potong di Indonesia, Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian Juni 2008, Vol. I(3):173-188.

Diwyanto.K., S. Rusdiana dan B. Wibowo. 2010. Pengembangan agribisnis sapi potong dalam suatu sistem ushatani kelapa terpadu. Wartazoa, Buletin Ilmu Peternakan Indnesia Maret 2010, Vol. 20(1):21-42.

Diwyanto.K. 2011. Tunda potong sebagai strategi jangka pendek untuk mendukung program swasembada daging sapi dalam. Forum Komunikaasi Profesor Riset. Policy Brief: Inovasi Teknologi dan Kelembagaan Pertanan. Badan Litbang Pertanian. Kementrian Pertanian Jakarta. hal. 1-151.

Devendra, C. 2011. Integrated Tree Crops-ruminants Sistems in South East Asia: Advances in Productivity Enhancement and Environmental Sustainability. J. Anim. Sci. 24(5): 587-602.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2014. Kondisi dan dukungan dan isu ketahanan pangan di Indonesia, Kementerian Pertanian 2014.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan 2016. Pedoman pelaksanaan Upaya khusus sapi potong wajob bunting (Upsus Siwab) 2017. Dersemebr 2016, hal. 1-24.

Ekowati T, Darwanto DH, Nurtini S, Suryantini A. 2011. The anal ysis of beef cattle subsystem agribusiness implementation in Central Java Province, Indonesia. JITAA. Vol.36(3):281-289.

Ginting Darwin. 2013. Tantangan dan strategi agribisnis peternakan sapi potong https://agribisnispeternakan.wordpress.com/2013/jurnal/ diakses tgl, 2 Npember 2016.

Ilham, N. 2009a. Kelangkaan produksi daging: indikasi dan implikasi kebijakannya. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.AKP Desember 2009, Vol.7(1) 43-63.

Ilham.N. 2006. Analisis sosial ekonomi dan strategi pencapaian swasembada daging 2010. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian. Juli 2006, Vol.4(2):131-145.

Ilham. N. 2007. Alternatif kebijakan peningkatan pertumbuhan PDB subsektor peternakan di Indonesia Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian. Vol.5(4):135-142.

Ilham, N. dan H. P. Saliem. 2011. Kelayakan finansial sistem integrasi sawit-sapi melalui program kredit usaha pembibitan sapi (Feasibility of the oil palm-cattle integration system through cosr-breeding business credit program). Analisis Kebijakan Pertanian, 9 (4): 349-269.

Kuswandi. 2007. Teknologi pakan untuk limbah tebu (fraksi serat) sebagai pakan ternak ruminansia. Wartozoa Buletin Ilmu peternakan Indonesia Volume 17 Nomor.2. hal, 56-72

Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2015 Statitik Peternakan dan Kesehatan Hewan Jakarta. Dalam angka sementara, ditjennak@pertanian. go.id, 2014.

Lembong Thomas. 2017. Solusi Jangka Pendek Soal Daging, Perlu Ada Impor Sap. https://finance.detik.com/beritaekon-omi-bisnis/2995924/imporsapi, diakses tgl, 11 Januari 2017.

Murfiani, F. 2017. Upaya kementerian pertanian dongkrak populasi sapi agar peternak sejahtera, Direektorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Jakarta, http://di-tjenpkh.pertanian.go.id/upayakementerian-pertanian-dongkrak-populasi-sapi-agar-peternak-sejahtera, diakses tgl, 7 Januari 2017.

Mathius.I.W. 2009. Produk samping industri kelapa sawit dan teknologi pengayaan sebagai bahan pakan sapi yang terintegrasi. Penyunting A.M.Fagi, Subandriyo dan I.Wayan Mathius, diterbitkan LIPI Press Anggota Ikapi, Bogor (Indonesia): Puslitbangnak, hal. 65-139.

Mahendra AVH, Arifin Z, Abdillah Y. 2014. Analisis dampak kebijakan pembatasan kuota impor sapi terhadap kinerja perusahaan (studi kasus pada PT Great Giant Livestock (GGLC), Lampung Tengah- Lampung). J.Admisnistrasi Bisnis. 3:1-8.

Nuhung Iskandar.A. 2014. kinerja, kendala,dan strategi pencapaian swasembada daging sapi. Pusat Sosial Kebijakan Ekonomi Pertanian (PSEKP) Forum Penelitian Agro Ekonomi,Vol. 33 No. 1, Juli 2015: 63–80.

Verscheldes M, D’Haese M, Rayp G, Vandamme E. 2013. Challenging small-scale farming: Anon-parametric analysis of the (inverse) relationship between farm productivityand farm size in Burundi. JAE. 64:319-342.

Roessali, W., B.T. Eddy, dan A.Murthado. 2005. Upaya pengembangan usaha sapi potong melalui entinitas agribisnis corporate farming di Kabupaten Grobogan. Jurnal Sosial Ekonomi Peternakan 1(1): 25-30.

Rusastra. I.W. 2014. Perdagangan ternak dan daging sapi: rekonsiliasi kebijakan impor dan revitalisasi pemasaran domestik. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Juli 2014, Vol 32(1): 59-71

Rifai Akhmad. L. 2010. Prospek pengembangan ternak sapi dalam rangka mendukung program swasembada daging sapi di Propinsi Sumatera Utara. Jurnal, Wartazoa, Buletin Ilmu Peternakan Indonesia Vol. 20. No. 2 Juni 2010. hal.85-92.

Retno Sri. H,M., Sumardjo, Nurmala.K., Pandjaitan dan Guara P. Libis. 2010. Pola komunikasi dalam pengembangan model manusia dan sosial pertanian. Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Jurnal, Forum Agro Ekonomi. FAE. Desember 2010. Vol.28(2):135-148.

Riszqina, L. Jannah, Isbandi3, E. Rianto, dan S.I. Santoso. 2011. Analisis pendapatan peternak sapi potong dan sapi bakalan karapan di pulau sapudi kabupaten sumenep, Jurnal Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro JITP, Juli 2011, Vol. 1(2):188-192.

Rusdiana.S., dan Adawiyah, C.R. 2013. Analisis ekonomi dan prospek usaha tanaman dan ternak dilahan perkebunan kelapa.Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis SEPA, September Vol.10(1):118-131.

Rouf AA, Daryanto A, Fariyanti A. 2014. Daya saing usaha sapi potong di Indonesia: Pendekatan domesticresources cost. Wartazoa. Desember 24 (2):97-107.

Rusdiana.S., U., Adiati dan R. Hutasoit. 2016. Analisis ekonomi usaha ternak sapi potong berbasis agroekosistem di Indonesia. Jurnal Sosail Ekonomi dan Kebijakan Pertanan. Jurnal Agroekonomika Oktober 2016, Vol.5(2):137-149.

Sudarjat, S. 2003. Operasional Program Terobosan Menuju Kecukupan Daging Sapi Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi PertanianAKP, 2005.Vol.1 (1): 9-13.

Suryana. 2009. Pengembangan usaha ternak sapi potong berorientasi agribisnis dengan pola kemitraans Jurnal Litbang Pertanian, 28(1):29-37.

Siregar. S.B. 2010. Penggemukan sapi potong P.T. Penebar Swadaya, Jakarta, hal. 1-135.

Suryana. 2007. Pengembangan integrasi ternak ruminansia pada perkebunan kelapa sawit, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol.26(1):35-40.

Sayaka.B. 2012. Pengembangan perbenihan sapi potong dan peranannya dalam pencapaian swasembada daging sapi. Pusat Soial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Jurnal Forum Penelitian Agro Ekonomi FAE. Juli 2012, Vol.30(1):59-71.

Soedjana.T.D. 2005. Prepalenesi usaha ternak tradisional dalam perspektif peningkatan produksi ternak nasional Badan Litbang Pertanian.Jurnal Litbang Pertanian, Vol. 24 (1):10-18.

Sulin, I., Saladin, Suardi, Z. Udin, dan K. Mudikdjo. 2006. Kontribusi pendapatan usaha peternakan rakyat sapi lokal pesisir dan sapi silang pesisir lB. Jurnal Ilmu-llmu Peternakan, 10(2):138-148.

Suswono. 2012. Blue printprogram swasembada daging sapi dan kerbau (PSDSK) 2014. Edisirevisi. Jakarta (Indonesia): Kementerian Pertanian.

Statistik Pertanian Indonesia 2015. Pengurangan jumlah pemotongan sapi betina produktif, Kementerian Pertanian Indonesia Jaakarta 2015,

Talib, C. 2001. Pengembangan sistem perbibitan sapi potong nasional, Jurnal Wartazoa Vol. 11(1): 10-19.

Talib, C, Entwistle, K, Siregar, A, Budiarti-Turner, S, dan Lindsay. 2003. Survey of population and production dynamics Bali cattle and existing breeding programs in Indonesia. In strategies to improve Bali cattle in Eastern Indonesia. ACIAR Proceeding No. 110. Pp: 3-9.

Utomo, B.N., dan E. Widjaja. 2012. Pengembangan sapi potong berbasis industri perkebunan ke lapa sawit (Development of Beef Cattle Based on Oil Palm Industry). J. Litbang Pert. 31(4): 153-161

Yusdja, Y., N. Ilham, dan W.K. Sejati. 2003. Profil dan permasalahan peternakan di Indnesia. Jurnal, Forum Penelitian Agro-Ekonomi 21(1):45-56.

Yusdja, Y. dan N. Ilham. 2004. Tinjauan kebijakan pengembangan agribisnis sapi potong. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian 2(2):183-203.

Winarso.B. ,Rosmiyati.S., dan Chaerul.M. 2006. Tinjauan ekonomi ternak sapi potong di Jawa Timur. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Juli 2006 Vol.23(1):61-71.

Widiati. R. 2014. Membangun industri peternakan sapi sotong rakyat dalam mendukung kecukupan daging sapi Buletin Ilmu Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia. Wartazoa, Th. 2014 Vol. 24(4):191-200.

Widiati R. 2012. Financial feasibility of beef cattle breedingwith various capital aids in rural area of Gunung Kidul District of Yogyakarta. Bul Anim Sci. p.312-317.

Wiyatna, M. F. 2007. Perbandingan indek perdagingan sapi-sapi Indonesia (Sapi Bali, Madura, PO) dengan sapi Australian Commercial Cross (ACC) (The Ratio of Meat Indek of Indonesian Cattles (Bali, Madura, PO) with Australian Cattle (Australian Commercial Cross)). Jurnal Ilmu Ternak, Vol.7(1):22-25.




DOI: https://doi.org/10.21157/ijtvbr.v3i1.11364

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


Copyright© 2016 | ISSN: 2503-4715 

Published by:
The Faculty of Veterinary Medicine of Syiah Kuala University
In cooperation with:
Center for Tropical Veterinary Studies of Syiah Kuala University
and Indonesian Veterinary Medical Association (PDHI)


Online Submissions & Guidelines Editorial Policies | Contact Statistics Indexing | Citations

 


Creative Commons License
IJTVBR
is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.