Identification of Aquifer Layer Based on 2D Resistivity Data in Lhokseumawe Aceh-Indonesia

zul Fadhli, Muhammad Syukri, Marwan Marwan

Abstract


Penelitian untuk mengidentifikasi keberadaan air tanah dan kedalaman akuifer telah dilakukan di wilayah KEK Arun Lhokseumawe Provinsi Aceh dengan kondisi geologi daerah penelitian adalah batuan lanauan dan batuan lempung serta geomorfologinya berupa perkebunan dan sungai buatan. Penelitian ini mengaplikasikan metode geolistrik resistivitas 2D dengan konfigurasi Wenner-Schlumberger. Akuisisi data di lapangan menggunakan alat SuperSting R8 yang keseluruhannya mempunyai 4 lintasan pengukuran dengan lintasan 1 dan 2 memotong lintasan 3 dan 4, panjang masing-masing lintasan pengukuran tersebut adalah 400 m. Pemprosesan data Hasil akuisisi di lapangan menggunakan software Res2dinv untuk menampilkan model 2D bawah permukaan di lokasi penelitian. Hasil interpretasi menunjukkan lintasan L1 pada kedalaman sampai dengan 70 m terdapat lempung berpasir, lanauan dan gravel. Terdapatnya pengaruh instrusi air laut pada kedalaman 25 m yang ditandai dengan nilai resistivitas <1 Ώm. Lapisan akuifer di identifikasi pada jarak bentangan 100 - 200 m dan pada kedalaman 60 m dengan nilai resistivitas 30 Ωm. Penampang lintasan 3 dan 4 tidak menunjukkan adanya lapisan akuifer yang layak untuk diexploitasi pada lintasan tersebut. Interpretasi lintasan L4 menunjukkan adanya intrusi air laut yang besar pada lapisan pertama. Terdapat 3 lapisan yang kontras yaitu lapisan lempung berpasir, gravel/lempung lanauan dan batuan dasar. Lapisan akuifer pada lintasan 4 diinterpretasikan berada pada kedalaman 70 m dengan nilai resistivitas 30 Ωm. Rekomendasi yang paling layak untuk lokasi pengeboran yaitu pada lintasan 4 pada jarak bentangan 180 m dengan jenis akuifer tertekan.

 

The research to identified ground water and depth of aquifer was conducted in KEK Arun Lhokseumawe Aceh Province. The geology contained siltstone and clay with geomorphology area are plantation and artificial river. The 2D resistivity acquisition was using Supersting R8 equipment with Wenner-Schlumberger array. There are 4 survey lines that conducted in the area where line 1 and 2 were crossed with line 3 and 4. The length of each line is 400 m respectively. The data processing was using Res2dinv software to shows 2D subsurface model. The result shown that line 1 is sandy clay, siltstone and gravel at depths up to 70 m. It was influenced by sea water at depth 25 m with resistivity value of <1 Ωm. The aquifer layer was identified at depth 60 m with resistivity value of 30 Ωm. However, line 3 and 4 were presented that the area surveys are suitable for exploration which have not indicate the existence of an aquifer layer. In the last line, it shown sea water intrusion at the first layer. There are 3 layers that contained in line 4 which is clayey sand, gravel and bedrock. The aquifer layer at Line 4 was interpreted at depth 70 m with resistivity value of 30 Ωm. The most feasible recommendation for a drilling location is on Line L4 at a distance of 180 m with a confined aquifer type.

 

Keywords: Aquifer, Resistivity, Lhokseumawe, ground water, sand


Full Text:

PDF

References


de Ruiter, P.A.C., 2016. Het mijnwezen in Nederlands-Oost-Indië 1850-1950. Utrecht University.

Dillon, P., 2005. Future management of aquifer recharge. Hydrogeology journal, 13(1), pp.313-316.

Ferris, J.G., Knowles, D.B., Brown, R.H. and Stallman, R.W., 1962. Theory of aquifer tests (pp. 69-174). Denver, Colorado: US Geological Survey.

Griffiths, D.H., Turnbull, J. and Olayinka, A.I., 1990. Two-dimensional resistivity mapping with a computer-controlled array. First break, 8(4), pp.121-129.

Indriana, R. D. & H. Danusaputro. 2006 Uji Nilai Tahanan Jenis Polutan Air Laut Dengan Metode Ohmik Dan Geolistrik Tahanan Jenis Skala Laboratorium. Berkala Fisika, 9(3):145-149.

Keats. W., Cameron, N.R., Djunudin. A., Gahzali. S.A., Harahap, H., Kartawa, W., Hgabito. H., Ngabito. H., Rock. NMS., Thompson. S.J., dan

Whandoyo. R., 1981. Peta geologi lembar Lhokseumawe Sumatra (Geologic map of the Lhokseumawe quadrangle, Sumatra). Pusat

Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Kodoatie, R.J., 1996. Pengantar Hidrogeologi. Penerbit ANDI. Yogyakarta.

Peraturan Presiden Republik Indonesia, 2008, PP No. 43/2008, 23 mei 2008.

Reynolds, J.M., 2011. An introduction to applied and environmental geophysics. John Wiley & Sons.

Sharma, S.P. and Baranwal, V.C., 2005. Delineation of groundwater-bearing fracture zones in a hard rock area integrating very low frequency electromagnetic and resistivity data. Journal of Applied geophysics, 57(2), pp.155-166.

Shiklomanov, I.A., 1993. World fresh water resources. In: Gleick, P.H. (Ed.), Water in Crisis. New York.

Sudarto, L., 2015, Prediksi Penurunan Muka Air Tanah Akibat Pemompaan di Daerah Jogonalan Klaten Jawa Tengah. In Seminar Nasional Informatika (SEMNASIF) Vol. 1, No. 5

Sudarsono, U., 2007, Studi Geologi Regional Untuk Tempat Penimbunan Limbah Industri di Lhokseumawe, Daerah Istimewa Aceh. Bulletin of environmental geology Vol. 17 No. 3 29-36

Telford, W.M., Telford, W.M., Geldart, L.P., Sheriff, R.E. and Sheriff, R.E., 1990. Applied geophysics Vol. 1. Cambridge university press.




DOI: https://doi.org/10.24815/jacps.v8i3.14518

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


  | eISSN 2355-8229 | email: jacps@unsyiah.ac.id | http://www.jurnal.unsyiah.ac.id/JAcPS | Published by Aceh Physics Society