PENGGUNAAN SAPAAN KEKERABATAN DALAM TUTURAN MASYARAKAT KABUPATEN BATU BARA PROVINSI SUMATERA UTARA

Miftahul Jannah, rajab Bahry, Saifuddin Mahmud

Abstract


ABSTRAK

 

Penelitian ini berjudul “Penggunaan Sapaan Kekerabatan dalam Tuturan Masyarakat Kabupaten Batu Bara Provinsi Sumatera Utara”. Rumusan masalahnya adalah (1) Bentuk sapaan hubungan kekerabatan apakah yang digunakan dalam tuturan masyarakat di Kabupten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara, dan (2) Bagaimanakah penggunaan sapaan hubungan kekerabatan dalam tuturan masyarakat di Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak (pengamatan), wawancara, dan kuesioner. Selanjutnya, sumber data penelitian ini adalah masyarakat penutur asli bahasa Melayu, Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sapaan kekerabatan dalam tuturan masyarakat Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara berdasarkan pada urutan kelahiran, dan berdasarkan pada generasi. Dalam tuturan masyarakat Kabupaten Batu Bara dikenal sepuluh macam sapaan berdasarkan urutan kelahiran, yaitu ulung, iyung, ayung, bulung, dan uyung (anak pertama), ongah, angah, ingah, inyah, dan anyah (anak kedua), alang/ayang (anak ketiga), udo (anak keempat), uteh/ateh (anak kelima), andak (anak keenam), anjang (anak ketujuh), antek/acik (anak kedelapan), ombung (anak kesembilan), ucu (anak kesepuluh). Sapaan berdasarkan pada generasi ditemukan sampai enam tingkatan di atas ego (ayah, ayah dari ayah, ayah dari ayah ayah, ayah dari onyang, ayah dari uyut, dan ayah dari oneng) dan enam tingkatan di bawah ego (anak, cucu, cicit, anak dari cicit, anak dari piyut, dan anak dari oneng). Enam tingkatan di Selanjutnya, sapaan-sapaan dalam tuturan masyaraka Kabupaten Batu Bara dipengaruhi oleh hubungan kekerabatan karena keturunan, perkawinan, dan hubungan peran, baik secara horizontal maupun secara vertikal.

Kata kunci: Kata sapaan, hubungan kekerabatan, Kabupaten Batu Bara

 

ABSTRACT

 

This study is entitled "The Use of Family Greetings in the Community Speech of the District of Coal in North Sumatra Province". The formulation of the problem is (1) What are the forms of greetings of kinship that are used in public speech in the District of Batu Bara, North Sumatra Province, and (2) How is the use of greetings of kinship relations in community speech in Batu Bara District, North Sumatra Province. This research uses a qualitative approach with descriptive methods. Data collection techniques used were listening (observation), interviews, and questionnaires. Furthermore, the source of this research data is the native Malay speaking community, Batu Bara Regency, North Sumatra Province. The results showed that the use of greeting kinship in community speech in Batu Bara District, North Sumatra Province was based on birth order, and based on generation. In the speech of the people of Batu Bara District, there are ten kinds of greetings based on birth order, namely, ulung, iyung, ayung, bulung, and uyung (first child), ongah, angah, ingah, inyah, and anyah (second child), alang / ayang (child third), udo (fourth child), uteh / ateh (fifth child), andak (sixth child), anjang (seventh child), henchman / acik (eighth child), ombung (ninth child), grandchild (tenth child). Greetings based on generation are found up to six levels above the ego (father, father from father, father from father, father from onyang, father from uyut, and father from oneng) and six levels below ego (children, grandchildren, grandchildren, children from great-grandchildren, children from piyut, and children from oneng). Six levels further, the greetings in the speech of the people of Batu Bara Regency are influenced by kinship relations due to heredity, marriage, and role relationships, both horizontally and vertically.

Keywords: Greetings, kinship relations, Batu Bara Regency

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.