Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Kota Banda Aceh

Saiful Bahri, Darusman Darusman, Syamaun A. Ali

Abstract


Abstrak. Dampak negatif dari sub-optimalisasi ruang terbuka hijau berupa menurunnya kenyamanan kota, penurunan kapasitas dan daya dukung wilayah yang dicirikan dengan meningkatnya pencemaran, menurunnya kualitas air tanah, meningkatkan suhu kota, serta menurunnya kualitas oksigen atau udara bersih di perkotaan. Dalam rangka memelihara dan meningkatkan kualitas lingkungan di Kota Banda Aceh, maka perlu mempertahankan dan mengembangkan RTH. Penelitian diskriptif ini bertujuan untuk menentukan standar luas minimal dan kecukupan RTH yang dibutuhkan di Kota Banda Aceh berdasarkan pendekatan luas wilayah dan kebutuhan oksigen. Data Primer diperoleh melalui pengamatan, survei lapangan, wawancara dan analisis Peta Kota Banda Aceh sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan dan dari berbagai instansi terkait yang berhubungan dengan analisis ini. Analisis data kebutuhan RTH berdasarkan luas wilayah dilakukan menurut Undang-Undang No, 26 Tahun 2007 dan berdasarkan kebutuhan oksigen menggunakan formula Gerakis yang dimodifikasi oleh Wisesa (1998). Hasil penelitian menunjukkan bahwa standar luas minimal RTH yang dibutuhkan di Kota Banda Aceh berdasarkan luas wilayah  seluas 1.840,77 ha terdiri dari 1.227,2 ha RTH publik dan 613,6 ha RTH privat, sedangkan berdasarkan kebutuhan oksigen penduduk, kendaraan bermotor dan ternak dibutuhkan RTH seluas 1.605,82 ha tahun 2011, 1.838,31 ha tahun 2014 dan  2.148,58  ha  tahun 2018. Kondisi eksisting RTH yang ada di Kota Banda Aceh seluas 1.474,79 ha yang terdiri dari 676.27 ha RTH Publik dan 798,52 ha RTH Privat, sehingga belum memenuhi standar kecukupan minimal kebutuhan RTH ditinjau berdasarkan luas wilayah dan kebutuhan oksigen.


Green Open Space Needs Area in the City of Banda Aceh

Abstract. The negative impact of sub-optimization of green open space in the form of declining urban comfort, reduced capacity and carrying capacity of the region which is characterized by the increasing pollution, declining water quality of the soil, increasing the temperature of the city, as well as the decrease in oxygen or air quality in urban areas clean. In order to maintain and improve environmental quality in the city of Banda Aceh, it is necessary to maintain and develop the green space. This descriptive study aimed to determine the broad minimum standards and the adequacy of the required green space in the city of Banda Aceh area based approach and the need for oxygen. Primary data obtained through observation, field surveys, interviews and analysis of maps of Banda Aceh, while the secondary data obtained through the study of literature and of the various agencies associated with this analysis. Data analysis was based on an area of green open space needs be done according to Law No. 26 Year 2007 and based on the need for oxygen using a modified formula Gerakis by Wisesa (1998). The results showed that the standard minimum area needed green space in the city of Banda Aceh based on an area of 1840.77 ha area consists of 1227.2 ha and 613.6 ha of public green space private green space, while based on the oxygen demand of the population, motor vehicles and livestock needed green space an area of 1605.82 ha in 2011, 1838.31 ha 2148.58 ha in 2014 and 2018. Existing condition of existing green space in the city of Banda Aceh area of 1474.79 ha consisting of 676.27 ha and 798.52 ha of Public RTH RTH Privat, so do not meet minimum adequacy standards are reviewed based on the needs of an area of green space and the need for oxygen.


Keywords


ruang terbuka hijau; kebutuhan oksigen; Kota Banda Aceh

Full Text:

PDF

References


Abdillah. 2006. Taman dan Hutan Kota. Azka Mulia Media, Jakarta

Arismunandar, W. 1992. Prinsip Kerja Kendaraan Bermotor ditinjau dari Keunggulan Otomotif. Badan Litbang Departemen Perhubungan, Jakarta.

Campbell, N.A., J.B. Reece dan L.G. Mitchell. 2002. Biologi. Terjemahan Lestari, R., E.I.M. Adil, N. Anita, Andri, W.F. Wibowo, dan W. Manalu. Erlangga, Jakarta.

Departemen Arsitektur Lannskap. 2005. Ruang Terbuka Hijau (RTH) Wilayah Perkotaan. Makalah Lokakarya Pengembangan Sistem RTH di Perkotaan. Laboratorium Perencanaan Lanskap IPB, Bogor.

Departemen Dalam Negeri. 2007. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan, Jakarta.

Ditjen Penataan Ruang. 2008. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan. Departemen Pekerjaan Umum R.I., Jakarta.

Esmay, M.L. 1988. Principle of Animal Environment. The Avi Publishing Company. Inc. Westport, Connecticut.

Hakim, R. 2002. Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau di Perkotaan. Fakultas Arsitektur Universitas Trisakti, Jakarta.

Pemerintah Kota Banda Aceh. 2003. Qanun Nomor 5 Tahun 2003 Tentang Kebersihan dan Keindahan Kota Banda Aceh.

Pemerintah Kota Banda Aceh. 2009. Qanun Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Banda Aceh Tahun 2009-2029. Sekretariat Daerah Kota Banda Aceh.

Sekretariat Negara R.I. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, Jakarta.

Spyros, M., S.C. Wheelwright dan V.C. McGee. 1993. Metode dan Aplikasi Prediksi. Edisi Kedua. Terjemahan Andriyanto, U.S. dan A. Basith. Erlangga, Jakarta.

Wisesa, S. P. C. 1988. Studi Pengembangan Hutan Kota Sebagai Ruang Terbuka Hijau. Jurusan Konservasi

Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Bogor.


Refbacks



Index by:

ISSN
: 2301-6981
Copyright © 2015 Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan
Program Studi Magister Konservasi Sumberdaya Lahan (KSDL)
Pasca Sarjana Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala
dan Himpunan llmu Tanah Indonesia (HITI) Komda Aceh
 
Visitors:


Flag Counter