Hak Anak Laki-Laki yang Melangsungkan Perkawinan Nyentana

I Gusti Agung Ayu Putu Cahyania Tamara, Rachma Fitriyanti Nasri, Rizka Wulan Pravitasari, Moza Fausta

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kedudukan hukum bagi anak laki-laki sebagai ahli waris yang melangsungkan perkawinan nyentana menurut hukum adat Bali sehingga mengakibatkan status dari anak laki-laki tersebut berubah yang awalnya berstatus purusa menjadi pradana. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif, dengan pendekatan undang-undang dan kasus hukum. Penelitian ini mengkaji Putusan PN Gianyar Nomor 55/Pdt.G/2014/PN.Gin berdasarkan Keputusan Majelis Utama Desa Pakraman Bali Nomor 01/KEP/PSM-3/MDP Bali/X/2010. Penelitian ini menemukan bahwa masyarakat Bali pada umumnya menggunakan sistem kekeluargaan patrilineal, namun dengan melangsungkan perkawinan nyentana maka menggunakan sistem kekeluargaan matrilineal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki yang melangsungkan perkawinan nyentana sehingga statusnya menjadi pradana termasuk dalam kategori ninggal kedaton terbatas, artinya bahwa pihak pradana juga bisa memperoleh haknya sebagai ahli waris sekaligus tetap menjalankan kewajibannya sebagaimana yang dilakukan oleh pihak purusa.

 

A Male Rights Who Did Nyentana Marriage

 

This study aims to analyses the legal position of a male as heirs who perform Nyentana marriages according to Balinese customary law, which causes the status of the man changing from being Purusa to Pradana. This study uses a normative juridical method, with a legal approach and a legal case. This study examines the Decision of the Gianyar District Court Number 55/Pdt.G/2014/ PN.Gin based on the Decision of the Main Assembly of Pakraman Village Bali Number 01/KEP/PSM-3/MDP Bali/X/2010. This study found that Balinese people generally used the Patrilineal family system, but by holding Nyentana marriage the Matrilineal family system was implemented. The results showed that male who carry out Nyentana marriages so that their status as Pradana was included in ‘Ninggal Kedaton terbatas’ category, meaning that Pradana could also obtain their rights as heirs while continuing to run their obligations as the Purusa do.


Keywords


hak anak; nyentana; pradana; hukum waris bali; male rights; nyentana; pradana; balinese inheritance law.

Full Text:

PDF

References


Buku-buku

Hadikusuma, H. (1992). Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia. Mandar Maju, Bandung.

Harahap, M. Y. (2012). Hukum Acara Perdata. Rajawali Press, Depok.

Panetje, G. (1986). Aneka Catatan Tentang Hukum Adat Bali. Kayu Mas, Denpasar.

Soemarman, A. (2005). Hukum Adat Perspektif Sekarang dan Mendatang. Adicita Karya Nusa, Yogyakarta.

Soepomo, R. (1966). Hubungan Individu dan Masyarakat Dalam Hukum Adat. Pradnya Pramita, Jakarta.

Soeripto. (1979). Hukum Adat Waris Bali. Fakultas Hukum Universitas Negeri Jember, Jember.

Soerojo, W. (1995). Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat. PT Toko Gunung Agung, Jakarta.

Utomo, L. (2017). Hukum Adat. PT RajaGrafindo Persada, Depok.

Windia, W. P. (2010). Bali Mawacara: Kesatuan Awig-Awig, Hukum dan Pemerintahan di Bali, Udayana University Press, Denpasar.

Windia, W. P. et all. (2012). Pewarisan Perempuan Menurut Hukum Adat Bali, Udayana University Press, Denpasar.

Dokumen lainnya

Dialog “Pustaka Dewata BALI TV”, https://www.youtube.com/watch?v=FWsA212IXkU




DOI: https://doi.org/10.24815/kanun.v21i2.13220

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




KANUN : Jurnal Ilmu Hukum

 

ISSN (Print): 0854 – 5499

ISSN (Online): 2527 – 8428

 

Published by: 

Redaksi Kanun: Jurnal Ilmu Hukum

Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala

Jl. Putroe Phang No. 1, Darussalam, Banda Aceh 23111

Telp. (0651) 7552295; Faks. (0651) 7552295

E-mail: kanun.jih@unsyiah.ac.id

Website: http://jurnal.unsyiah.ac.id/kanun

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.