Perbandingan Prosedur Perkawinan Adat Baduy dengan Kompilasi Hukum Islam

Muhamad Muslih

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan perkawinan masyarakat Baduy (baik Baduy Dalam, Baduy Luar, maupun Baduy Muslim) dengan perkawinan yang diatur dalam Kompilasi Hukum Islam. Penelitian ini juga menjelaskan tentang perlunya pembentukan peraturan daerah yang berkaitan dengan prosedur perkawinan bagi masyarakat Baduy dalam rangka mendukung kelestarian hukum adat Baduy, seperti peraturan daerah yang telah ada sebelumnya (Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No. 32 Tahun 2001 tentang Perlindungan Atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy). Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif, dengan studi terhadap bahan hukum. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat banyak perbedaan antara perkawinan masyarakat Baduy dengan perkawinan yang diatur dalam Kompilasi Hukum Islam, seperti masyarakat Baduy tidak mengenal poligami, tidak mengenal perceraian, melakukan pernikahan dini, dan lain-lain. Padahal Kompilasi Hukum Islam telah mengatur poligami, perceraian, dan batas umur menikah. Karena masyarakat Baduy semakin lama-semakin banyak keturunannya, maka peraturan daerah yang mengatur perkawinan Baduy pun harus segera dibentuk sesuai dengan hukum adat Baduy dan Kompilasi Hukum Islam (bagi Baduy Muslim).

 

The Comparison of Marriage Procedures Between Baduy and Kompilasi Hukum Islam

 

This study aims to compare between the marriages in the Baduy community (Inner Baduy, Outer Baduy, and Muslim Baduy) and marriages arranged by the Compilation of Islamic Law. This study also examine the need for the establishment of a Regional Regulation relate to marriage procedures in the Baduy community in order to support the preservation of Baduy customary law (such as the pre-existing Regional Regulation namely Lebak District Regulation No. 32 of 2001 concerning Protection of the Customary Rights of the Baduy). This study uses normative methods. The results indicate that there are many differences between Baduy marriages and marriages arranged in the Compilation of Islamic Law such as Baduy people never do a polygamy, divorce, early marriage, and others. Though Compilation of Islamic Law has regulated polygamy, divorce, and the age limit for marriage. In addition, because the Baduy community is getting more and more offspring, as aresult it needs the Regional Regulation governing Baduy marriages in accordance with the Baduy Customary Law and Compilation of Islamic Law (for Muslim Baduy).


Keywords


perkawinan baduy; hukum islam; hukum adat; marriage; islamic law; customary law.

Full Text:

PDF

References


Buku-buku

Adimihardja, K. (2000) Orang Baduy di Banten Selatan Manusia air Pemelihara Sungai. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Danasasmita & Djatisunda, A. (1983). Masyarakat Kanekes. Bandung: Bappeda D.T. I Jabar.

Danasasmita & Djatisunda, A. (1986). Kehidupan Masyarakat Kenekes. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Sundanologi Dirjen Kebudayaan Depdikbud.

Djoewisno. (1987). Potret Kehidupan Masyarakat Baduy: Orang-orang Baduy Bukan Suku Terasin, Tetapi Mereka yang Mengasingkan Diri. Cipta Pratama.

Fajar, M. & Achmad, Y. (2010). Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Farukhi. (2008). Mengenal 33 Provinsi Indonesia: Banten. Jakarta: PT Sinergi Pustaka Indonesia.

Garna. (1974). Masyarakat dan Kebudayaan Baduy I. Bandung: Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Padjajaran.

Manan, B. (2001). Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Yogyakarta: Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia.

Mara & Kasnodihardjo, J., A. (2014). Balutan Pikukuh Persalinan Baduy. Pusat Humaniora Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat.

Permana, C., E. (2005). Kesetaraan Gender dan Adat Inti Jagad Baduy. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Rudy. (2012). Hukum Pemerintahan Daerah Perspektif Konstitusionalisme Indonesia. Bandar Lampung: Indepth Publishing.

Rukmana, A., Tradisi Perkawinan Baduy Luar Dengan Baduy Dalam (Studi Kasus di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Banten). Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Soekanto, S. (1998). Metodologi Research. Yogyakarta: Andi Offset.

Triyeni, D. (2016). Tinjauan Yuridis Terhadap Perkawinan Dan Perceraian Masyarakat Suku Baduy Luar Ditinjau Menurut Hukum Adat.

Jurnal

Amini, N., M. (2019) Interaksi Sosial Wanita Pekerja Baduy. Jurnal Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan. XIX (1), 38.

Bintari, R. (2012). Sejarah Perkembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Baduy Pasca Terbentuknya Provinsi Banten Tahun 2000. Pandecta Research Law Journal Universitas Negeri Semarang, 1(1).

Hakiki, K. M. (2015). Ke-Islaman Suku Baduy Banten: Antara Islam dan Slam Sunda Wiwitan. Jurnal Refleksi, 14 (1).

Hasanah, A. (2012). Pengembangan Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Pada Masyarakat Minoritas (Studi atas Kearifan lokal Masyarakat Adat suku Baduy Banten). Jurnal Wacana, XXI (1).

Heirich, M. (1976). Change of Heart: A Test of Some Widely Held Theories about Religious Coersion. American Journal of Sociologi, 83 (3).

Jalianery, J. (2017). Kewenangan Lembaga Dewan Adat Dayak (DAD) dalam Melindungi Hak Atas Tanah Adat di Provinsi Kalimantan Tengah. Jurnal Hukum Acara Perdata ADHAPER, 3 (1), 135–154.

Jalil, H., Yani, A., & Yoesoef, M., D. (2010). Implementasi Otonomi Khusus Di Provinsi Aceh Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 (Special Autonomy Implementation in Province Aceh based on the act Number 11 of 2006). Kanun Jurnal Ilmu Hukum, 51 (Ed. Agustus), 206 - 233.

Maharani, S., D. (2009). Perempuan dalam Kearifan Lokal Suku Baduy. Jurnal Filsafat. 19 (3).

Prihantoro, F. (2006). Kehidupan Berkelanjutan Masyarakat Suku Baduy. Jurnal Asia Good ESD Practice Project. BINTARI (Bina Karta Lestari) Foundation.

Senoaji, G. (2010). Masyarakat Baduy, Hutan, dan Lingkungan (Baduy Community, Forest, and Environment). Jurnal Wacana Universitas Bengkulu. 17 ( 2).

Wahid, M. (2011). Sunda Wiwitan Baduy, Agama Penjaga Alam Lindung Desa Kanekes Banten. Jurnal Wacana, Banten: IAIN Sultan Maulana Hasanudin.

Widowati, D. & Mulyasih, R. (2014). Perubahan perilaku sosial masyarakat Baduy Terhadap Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jurnal Komunikasi Universitas Serang Raya, Vol. 3 (Sept-Des).

Penelitian

Ayi Rukmana, A. (2016). Tradisi Perkawinan Baduy Luar Dengan Baduy Dalam (Studi Kasus di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Banten). Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Fuadah, F., T. (2017) Pelaksanaan Aturan Kebal Cerai Pada Perkawinan Masyarakat Hukum Adat Baduy (Studi di Suku Baduy, Kecamatan Leuwidamar, Provinsi Banten). Thesis. Universitas Brawijaya.

Internet & Makalah

Dirjen. (2001). Kompilasi Hukum Islam. Dirjen Pembinaan Kelembagaan Islam Departemen Agama. Diakses pada 7 Agustus 2019. http://hukum.unsrat.ac.id/ma/kompilasi.pdf.

Retnani, S. (2000). Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia. Makalah. Kantor Menteri Negara Otonomi Daerah Republik Indonesia.

Tony. (2019, Mei 07). Seba Baduy Berikan Amanat Puun Kepada Gubernur Banten. Retrieved Agustus 08, 2019, from REPUBLIKA.co.id:https://nasional.republika.co.id/ berita/nasional/daerah/pr4zt2440/seba-baduy-berikan-amanat-puun-kepada-gubernur-banten




DOI: https://doi.org/10.24815/kanun.v21i3.14302

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




KANUN : Jurnal Ilmu Hukum

 

ISSN (Print): 0854 – 5499

ISSN (Online): 2527 – 8428

 

Published by: 

Redaksi Kanun: Jurnal Ilmu Hukum

Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala

Jl. Putroe Phang No. 1, Darussalam, Banda Aceh 23111

Telp. (0651) 7552295; Faks. (0651) 7552295

E-mail: kanun.jih@unsyiah.ac.id

Website: http://jurnal.unsyiah.ac.id/kanun

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.